Bisma

Cerita Tentang

Bisma (Sanskerta: भीष्म, Bhīshma)

terlahir sebagai

Dewabrata (Sanskerta: देवव्रत, Dévavrata)


 

Penyadur

Bambang JB

 

Pengantar

Bisma (Sanskerta: भीष्म, Bhīshma) terlahir sbg Dewabrata (Sanskerta: देवव्रत, Dévavrata), merupakan salah satu tokoh utama dalam wiracarita Mahabharata. Ia merupakan putera dari pasangan Prabu Santanu dan Dewi Gangga. Ia juga merupakan kakek dari Pandawa maupun Korawa. Semasa muda ia bernama Dewabrata, namun bertukar dijadikan Bisma semenjak ia bersumpah bahwa tidak akan menikah seumur hidup. Bisma pakar dalam segala modus peperangan dan sangat disegani oleh Pandawa dan Korawa. Ia gugur dalam sebuah pertempuran akbar di Kurukshetra oleh panah dahsyat yang dibiarkan lepas sama sekali oleh Srikandi dengan bantuan Arjuna. namun ia tidak meninggal pada masa itu juga. Ia sempat hidup selama beberapa hari dan menyaksikan kehancuran para Korawa. Ia menghembuskan napas terkahirnya masa garis belakang matahari berada di utara (Uttarayana).

Isi

1.       Manfaat nama

2.       Lahir

3.       Kehidupan awal

4.       Pendidikan

5.       Peran dalam Dinasti Kuru

6.       Perang di Kurukshetra

7.       Kematian

8.       Bisma dalam pewayangan Jawa

8.1            Riwayat

9.                Landasan lain

10.           Referensi

11.           Pranala luar

 

 

 

 

 

Manfaat nama

Nama Bhishma dalam bahasa Sanskerta berarti "Ia yang sumpahnya dahsyat (hebat)", karena ia bersumpah akan hidup membujang selamanya dan tidak mewarisi tahta kerajaannya. Nama Dewabrata ditukar dijadikan Bisma karena ia melakukan bhishan pratigya, yaitu sumpah untuk membujang selamanya dan tidak akan mewarisi tahta ayahnya. Hal itu dikarenakan Bisma tidak akan ia dan keturunannya berselisih dengan keturunan Satyawati, ibu tirinya.

Lahir

Bisma merupakan penjelmaan salah satu Delapan Wasu yang berinkarnasi sbg manusia yang lahir dari pasangan Dewi Gangga dan Prabu Santanu. Menurut kitab Adiparwa, Delapan Wasu menjelma dijadikan manusia karena dikutuk atas tingkah lakunya yang telah mencuri lembu sakti milik Resi Wasistha. Dalam perjalanannya menuju bumi, mereka bertemu dengan Dewi Gangga yang juga bersedia turun ke dunia untuk dijadikan istri putera Raja Pratipa, yaitu Santanu. Delapan Wasu kesudahan menciptakan kesepakatan dengan Dewi Gangga bahwa mereka akan menjelma sbg delapan putera Prabu Santanu dan dilahirkan oleh Dewi Gangga. Bisma merupakan penjelmaan Wasu yang bernama Prabhata.[1]

Kehidupan awal

"Wafatnya Bisma". Lukisan dari kitab Razmnama, atau Mahabharata versi Persia.

Sementara tujuh kakaknya yang telah lahir meninggal karena ditenggelamkan ke sungai Gangga oleh ibu mereka sendiri, Bisma berhasil selamat karena tingkah laku ibunya dicegah oleh ayahnya. Kemudian, sang ibu membawa Bisma yang sedang bayi ke surga, meninggalkan Prabu Santanu sendirian. Setelah 36 tahun kesudahan, Sang Prabu menemukan puteranya secara tidak sengaja di hilir sungai Gangga. Dewi Gangga kesudahan menyerahkan anak tersebut kepada Sang Prabu, dan memberinya nama Dewabrata. Dewabrata kesudahan dijadikan pangeran yang tajam akal dan gagah, dan dicalonkan sbg pewaris kerajaan. Namun karena kontraknya terhadap Sang Dasapati, ayah Satyawati (ibu tirinya), ia rela untuk tidak mewarisi tahta serta tidak menikah seumur hidup supaya kelak keturunannya tidak memperebutkan tahta kerajaan dengan keturunan Satyawati. Karena ketulusannya tersebut, ia diberi nama Bisma dan dianugerahi supaya mampu berteman dengan Sang Dewa Waktu sehingga ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri.

Bisma memiliki dua saudara kandung yang lebih muda tiri dari ibu tirinya yang bernama Satyawati. Mereka bernama Citrānggada dan Wicitrawirya. Demi kebahagiaan adik-adiknya, ia berkunjung ke Kerajaan Kasi dan memenangkan sayembara sehingga berhasil membawa pulang tiga orang puteri bernama Amba, Ambika, dan Ambalika, untuk dinikahkan kepada adik-adiknya. Karena Citrānggada wafat, karenanya Ambika dan Ambalika menikah dengan Wicitrawirya sedangkan Amba mencintai Bisma namun Bisma menolak cintanya karena terikat oleh sumpah bahwa ia tidak akan kawin seumur hidup. Demi usaha untuk menjauhkan Amba dari dirinya, tanpa sengaja ia menembakkan panah menembus dada Amba. Atas kematian itu, Bisma diberitahu bahwa kelak Amba bereinkarnasi dijadikan seorang pangeran yang memiliki sifat kewanitaan, yaitu putera Raja Drupada yang bernama Srikandi. Kelak kematiannya juga berada di tangan Srikandi yang membantu Arjuna dalam pertempuran akbar di Kurukshetra.

Pendidikan

Bisma mempelajari ilmu politik dari Brihaspati (guru para Dewa), ilmu Veda dan Vedangga dari Resi Wasistha, dan ilmu perang dari Parasurama (Ramaparasu; Rama Bargawa), seorang ksatria legendaris sekaligus salah satu Chiranjīwin yang hidup tidak berkesudahan sejak zaman Treta Yuga. Dengan berguru kepadanya Bisma ahli dalam menggunakan segala macam senjata dan karena kepandaiannya tersebut ia ditakuti oleh segala lawannya. Bisma mandek berusaha bisa kepada Parasurama karena perdebatan mereka di asrama tentang persoalan Amba. Pada masa itu dengan sengaja Bisma mendorong Parasurama sampai terjatuh, dan semenjak itu Parasurama bersumpah untuk tidak lagi menerima murid dari kasta Kshatriya karena menciptakan susah.[1]

Peran dalam Dinasti Kuru

Di anggota yang terkait keraton Hastinapura, Bisma sangat dihormati oleh anak-cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak aci yang sanggup menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan laskar Asura menggabungkan daya dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang.[2]

Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Korawa. Mereka menghormatinya sbg seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang ahli. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sbg ayah mereka (Pandu), yang sebenarnya telah wafat.

Perang di Kurukshetra

Kesabaran Kresna habis sehingga ia akan membunuh Bisma dengan tangannya sendiri, namun dicegah oleh Arjuna.

Masa perang selang Pandawa dan Korawa meletus, Bisma berada di pihak Korawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berucap kepada Yudistira bahwa dirinya telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Korawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan sebelum pertempuran, karenanya Bisma merestui Yudistira dan berdo'a supaya kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk ditaklukkan. Bisma juga pernah berucap kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Korawa, kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun aci Kresna karenanya di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun aci Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.[2]

Dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra, Bisma bertarung dengan dahsyat. Prajurit dan ksatria yang melawannya pasti binasa atau mengalami luka berat. Dalam kitab Bismaparwa diceritakan bahwa di dunia ini para ksatria sulit menandingi dayanya dan tidak aci yang mampu melawannya selain Arjuna – ksatria berpanah yang terkemuka – dan Kresnapenjelmaan Wisnu. Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma merupakan kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang sedang sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya.

Kresna yang dijadikan kusir kereta Arjuna dalam peperangan, dijadikan marah dengan sikap Arjuna yang sedang segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar Chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahagia bila gugur di tangan Madhawa (Kresna). Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk melepas langkahnya.

Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berucap, "O Kesawa (Kresna), janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan kontrak bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna), apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan dampak perang ini, hambalah yang mesti menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!..."

Kresna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

Kematian

Sebelum hari kematiannya, Pandawa dan Kresna mendatangi kemah Bisma di malam hari untuk mencari tahu kelemahannya. Bisma mengetahui bahwa Pandawa dan Kresna telah masuk ke dalam kemahnya dan ia menyambut mereka dengan ramah. Ketika Yudistira menanyakan apa yang bisa diperbuat untuk menaklukkan Bisma yang sangat mereka hormati, Bisma menjawab:

...ketahuilah pantanganku ini, bahwa diri sendiri tidak akan menyerang seseorang yang telah membuang senjata, juga yang terjatuh dari keretanya. Diri sendiri juga tidak akan menyerang mereka yang senjatanya terlepas dari tangan, tidak akan menyerang orang yang bendera lambang kebesarannya hancur, orang yang melarikan diri, orang dalam keadaan ketakutan, orang yang takluk dan mengatakan bahwa ia menyerah, dan diri sendiri pun tidak akan menyerang seorang wanita, juga seseorang yang namanya seperti wanita, orang yang lemah dan tak mampu menjaga diri, orang yang hanya memiliki seorang anak lelaki, atau pun orang yang sedang mabuk. Dengan itu semua diri sendiri enggan bertarung....... [2]

 

 


Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa akan mengalahkannya, mereka mesti menempatkan seseorang yang menciptakan Bisma enggan untuk bertarung di hadapan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang menciptakan Bisma enggan berperang,
Arjuna mesti mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya. Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan Arjuna akan kewajibannya. Meski Arjuna sedang segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut. Pada hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah-panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan menembus baju zirahnya, kesudahan Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Korawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.

Bisma dalam pewayangan Jawa

Selang Bisma dalam kitab Mahabharata dan pewayangan Jawa memiliki beberapa perbedaan, namun tidak terlalu akbar karena inti kisahnya sama. Perbedaan-perbedaan tersebut diantaranya disebabkan oleh bagian Jawanisasi, yaitu menciptakan kisah wiracarita dari India bagaikan terjadi di pulau Jawa.

Riwayat

Bisma dalam versi pewayangan Jawa.

Bisma merupakan anak Prabu Santanu, Raja Astina dengan Dewi Gangga alias Dewi Jahnawi (dalam versi Jawa). Waktu kecil bernama Raden Dewabrata yang berarti keturunan Bharata yang luhur. Ia juga mempunyai nama lain Ganggadata. Ia merupakan salah satu tokoh wayang yang tidak menikah yang dikata dengan istilah Brahmacarin. Berkediaman di pertapaan Talkanda. Bisma dalam tokoh perwayangan digambarkan seorang yang sakti, dimana sebenarnya ia berhak atas tahta Astina akan tetapi karena harapan yang luhur dari dirinya demi menghindari perpecahan dalam negara Astina ia rela tidak dijadikan raja.

Resi Bisma sangat sakti mandraguna dan banyak yang bertekuk lutut kepadanya. Ia mengikuti sayembara untuk mendapatkan putri untuk Raja Hastina dan memboyong 3 Dewi. Salah satu putri yang dimenangkannya merupakan Dewi Amba dan Dewi Amba ternyata mencintai Bisma. Bisma tidak bisa menerima cinta Dewi Amba karena ia hanya wakil untuk mendapatkan Dewi Amba. Namun Dewi Amba tetap berkeras hanya bersedia menikah dengan Bisma. Bisma pun menakut-nakuti Dewi Amba dengan senjata saktinya yang justru tidak sengaja membunuh Dewi Amba. Dewi Amba yang sedang sekarat dipeluk oleh Bisma sambil mencetuskan bahwa sesungguhnya dirinya juga mencintai Dewi Amba. Setelah roh Dewi Amba keluar dari jasadnya kesudahan mengatakan bahwa ia akan menjemput Bisma suatu masa supaya bisa bersama di dunia lain dan Bisma pun menyangupinya. Diceritakan roh Dewi Amba menitis kepada Srikandi yang akan membunuh Bisma dalam perang Bharatayuddha.

Dikisahkan, masa ia lahir, ibunya moksa ke dunia baka meninggalkan Dewabrata yang sedang bayi. Ayahnya prabu Santanu kesudahan mencari wanita yang bersedia menyusui Dewabrata hingga ke negara Wirata bertemu dengan Dewi Durgandini atau Dewi Satyawati, istri Parasara yang telah berputra Resi Wyasa. Setelah Durgandini bercerai, ia dijadikan permaisuri Prabu Santanu dan melahirkan Citrānggada dan Wicitrawirya, yang dijadikan saudara Bisma seayah lain ibu.

Setelah menikahkan Citrānggada dan Wicitrawirya, Prabu Santanu turun tahta dijadikan pertapa, dan digantikan anaknya. Sayang kedua anaknya kesudahan meninggal secara berurutan, sehingga tahta kerajaan Astina dan janda Citrānggada dan Wicitrawirya diserahkan pada Byasa, putra Durgandini dari suami pertama. Byasa-lah yang kesudahan menurunkan Pandu dan Dretarastra, orangtua Pandawa dan Korawa. Demi kontraknya membela Astina, Bisma berpihak pada Korawa dan mati terbunuh oleh Srikandi di perang Bharatayuddha.

Bisma memiliki kesaktian tertentu, yaitu ia bisa menentukan waktu kematiannya sendiri. Karenanya ketika sudah sekarat terkena panah, ia minta sebuah tempat untuk berbaring. Korawa memberinya tempat pembaringan mewah namun tidak diterimanya, akhir-akhirnya Pandawa memberikan ujung panah sbg alas tidurnya (kasur panah) (sarpatala). Tetapi ia belum akan meninggal, akan melihat kesudahan daripada perang Bharatayuddha.

Landasan lain

Referensi

1.      The Mahabharata of Krishna Dwaipayana Wyasa. Buku I: Adiparwa

2.      The Mahabharata of Krishna Dwaipayana Wyasa. Buku VI: Bismaparwa.

Pranala luar

Tokoh dalam Wiracarita Mahabharata

 


Trah Candrawangsa

Leluhur Candrawangsa 

Pururawa · Ayu · Nahusa · Yayati · Pracinwan · Duswanta · Bharata · Hasti · Ajamida · Reksa · Sambarana · Kuru

 

Dinasti Kuru (Korawa)

 

Dinasti Yadu (Yadawa)

 

Resi dan Sesepuh

Basudewa · Bisma · Byasa (Abyasa) · Dewapi · Drona · Krepa · Widura

 

Tokoh Lain

Raja dan Permaisuri

Bhagadatta · Drupada · Jarasanda · Jayadrata · Rukmi · Salya · Wirata (Matsyapati)

 

Pangeran dan Putri

Ahilawati · Amba · Babruwahana · Burisrawa · Cekitana · Citrānggadā · Drestadyumna · Dropadi · Srikandi · Sweta · Ulupi · Utara · Utari

 

Brahmana

Durwasa · Parasara · Wesampayana

 

Ksatria

Aswatama · Barbarika · Ekalawya · Karna · Kicaka · Sangkuni · Satyajit

 

Lain lain

Adirata · Bakasura · Hidimba · Hidimbi · Mayasura · Nanda · Radha (kekasih Kresna) · Radha (ibu Karna) · Sanjaya · Taksaka · Udawa · Yasoda

 

Komentar